Kamis, 13 Desember 2012

Aspek-Aspek Pendidikan

Aspek-Aspek Pendidikan
Manusia mempunyai bermacam-macam hakekat. Hakekat sebagai makhluk dwitunggal, hakekat sebagai makhluk individual, hakekat sebagai makhluk sosial, dan hakekat sebagai makhluk susila. Berdasarkan hakekat-hakekat manusia di atas, maka kita dapati berbagai segi pendidikan atau aspek-aspek pendidikan. Berikut aspek-aspek pendidikan antara lain:
a. Pendidikan budi pekerti atau pendidikan akhlak
Budi pekerti atau akhlak adalah aspek yang sangat fundamental dalam kehidupan.baik bagi kehidupan sebagai orang-seorang maupun bagi kehidupan masyarakat dan bangsa. Tujuan dari pendidikan budi pekerti adalah mandidik anak agar dapat membedakan antara baik dan buruk,sopan dan tidak, terpuji dan terkutuk. Dengan demikian pendidikan akhlak mencakup dua macam pembentukan yaitu pembentukan kata hati dan pembentukan kemauan. Pembentukan kata hati, agar anak memiliki kepekaan (sensitiveness) terhadap baik dan buruk. Pembentukan kemauan, agar anak mempunyai kemauan yang kuat untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak baik dan hanya berbuat yang baik saja.
Ahli filsafat yunani kuno Socrates mengatakan “Siapa yang tahu akan mau”. Maksudnya barang siapa yang tahu akan kebajikan, akan mau berbuat sesuai dengan kebajikan tersebut. Mungkin manusia pada zaman Socrates masih begitu murni dan begitu baik. Sehingga asal tahu yang baik, hanya akan mau berbuat yang baik. Sedangkan ada pendapat lain dari Rousseau yang mengatakan “Manusia baik waktu dilahirkan. Tetapi manusia jadi rusak karena masyarakat”.
Mengenai pelaksanaan pendidikan budi pekerti di sekolah, dalam hal ini ada dua pendapat.
Pendapat pertama menghendaki, agar pendidikan budi pekerti diberikan dalam ja-jam tersendiri. Dengan begitu ada jam pelajaran untuk budi pekerti tersendiri. Pendapat kedua menghendaki, bahwa pendidikan budi pekerti  diintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran . semua guru dengan mata pelajaran apapun harus menyusupkan pendidikan budi pekerti , dan membimbing serta mengawasi budi pekerti murid-murid.
 Pendapat pertama mungkin baik juga untuk muri-murid kelas rendah. Tetapi untuk kelas yang lebih tinggi pendapat kedua kiranya lebih cocok. Oleh karena, banyak mata pelajaran yang baik untuk di pergunakan sebagai wadah dari pendidikan budi pekerti. Misalnya mata pelajaran agama, kewaraganegaraan, juga bahasa, kiranya merupakan wadah-wadah yang baik untuk pendidikan budi pekerti.

b.      Pendidikan kecerdasan
Pendidikan kecerdasan adalah tugas pokok dari sekolah, di samping tugas-tugas yang lain. Tujuan daripendidikan kecerdasan ialah mendidik anak agar dapat berfikir secara kritis, logis, kreatif, dan reflektif.
Berfikir secara kritis berarti, bahwa dengan cepat anak melihat hal-hal yang benar dan hal-hal yang tidak benar.
Berfikir secara logis berarti, bahwa dengan cepat dapat melihat hubungan masalah yang satu dengan yang lain,menghubung-hubungkan dari beberapa masalah, membandingkan, kemudian menarik kesimpulan.
Berfikir secara kreatif berarti, bahwa dari apa yang telah di selidiki, melakukan percobaan, serta pengamatan yang dilakukan dapat menemukan sesuatu yang dianggap baru.
Berfikir secara reflektif berarti,bahwa anak dapat menggunakan cara-cara induktif dan deduktif dengan tepat , guna memecahkan persoalan-persoalan.
Beberapa hal untuk melatih anak berfikir :
1.      Hindarkanlah adanya verbalistis dalam pengajaran. Verbalistis adalah pengajaran yang disajikan melulu dengan kata-kata saja. Sehingga, pengajaran verbalistis disebut juga pengajaran serba kata.
2.      Sajikanlah pengajaran dalam bentuk pemecahan masalah (problem-solving). Bentuk problem-solving tidak hanya terdiri atas pemecahan ataupenyelesaian soal-soal berhitung, soal-soal ilmu alam, soal-soal ilmu
3.      pasti, dan sebagainya. Melainkan, hadapkanlah murid kepada situasi riil yang harus dipecahkan.
4.      Usahakanlah aktivitas-aktivitas dalam praktek untuk menyelidiki dan menguji kebenaran pengetahuan yang diperoleh dari buku.
5.      Latihlah murid-murid untuk membuat laporan. Misalnya guru dan murid setelah melakukan eksperimen, guru menyuruh murid membuat laporan. Apakah murid bisa menyusun laporan yang beruntun dan logis.
6.      Latihlah murid-murid untuk menggunakan cara-cara berfikir logis. Maksudnya adalah cara berfikir dengan menggunakan metode-metode berfikir.
Ada 4 macam  metote berfikir yaitu cara analogi, cara induksi, cara deduksi, dan cara syllogisme.
·         Cara analogi ialah cara menarik kesimpulan berdasarkan adanya persamaan-persamaan.
·         Cara induksi ialah cara menarik kesimpulan berdasarkan contoh-contoh, percobaan-percobaan,atau fakta-fakta.
·         Cara deduksi ialah cara menarik kesimpulan berdasrkan dalil atau hukum.
·         Cara syllogisme ialah menarik kesimpulan secara syllogisme terdiri atas tiga tingkatan, yaitu :
Ø  Tingkat pertama disebut premis mayor yaitu pertanyaan yang mengandung pengertianyang lebih tinggi atau luas.
Ø  Tingkat kedua disebut premis minor yaitu pernyataan yang mengandung pengertian lebih sempit atau rendah dari premis mayor.
Ø  Tingkat ketiga adalah kesimpulan yang di ambil.
Contoh : I. Binatang menyusui berdarah panas
              II. Ikan paus binatang menyusui
             III. Ikan paus berdarah panas. (Kesimpulan)
c.  Pendidikan Sosial atau Kemasyarakatan
Pendidikan ini berhubungan dengan pergaulan anak didik dan proses adaptasi lingkungan. Menurut hakekatnya manusia itu disamping sebagai makhluk individual, juga sebagai makhluk sosial. Manusia tidak dapat hidup seorang diri, terpisah dari manusia-manusia yang lain.
Manusia senantiasa hidup dalam kelompok-kelompok, baik kelompok kecil seperti keluarga maupun kelompok masyarakat atau Negara.Untuk dapat hidup bersama dengan orang lain, maka penting sekali orang itu harus dapat menyesuaikan diri.
Untuk dapat menyesuaikan diri ini, pertama-tama perlu adanya kesanggupan untuk mengidentifikasikan diri kepada orang lain. Yang dimaksud disini ialah menyamakan dirinya untuk menganggap dirinya sebagai orang lain. Atau dapat dikatakan juga menempatkan dirinya ke dalam diri orang lain. Selanjutnya orang harus bisa turut merasakan apa yang dirasa orang lain. Disamping itu untuk kehidupan bersama diperlukan sifat-sifat seperti sifat toleransi, sifat sabar, ramah tamah, sopan santun, tolong -menolong, harga- menghargai, hormat-menghormati dan sebagainya.
Tujuan dari pendidikan sosial adalah mendidik anak agar dapat menyesuaikan diri dalam kehidupan bersama  dan dapat ambil bagian atau berpartisipasi secara aktif dalam kehidupan bersama tersebut.
Pendidikan sosial harus sudah dimulai sejak anak masih dalam kehidupan keluarganya. Yaitu dengan jalan memberikan tugas-tugas tanggung jawab sesuai                                                                                                                                                               dengan kemampuan dan tingkat umurnya.
Pendidikan sosial disekolah dapat dikembangkan melalui pembagian tugas-tugas di dalam kelas, pekerjaan-pekerjaan kelompok, perayaan-perayaan disekolah, dan melalui kegiatan-kegiatan social yang ada dalam masyarakat.

d.Pendidikan Kewarganegaraan
Hakikat pendidikan kewarganegaraan adalah upaya sadar dan terencana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa bagi warga negara dengan menumbuhkan jati diri dan moral bangsa sebagai landasan pelaksanaan hak dan kewajiban dalam bela negara, demi kelangsungan kehidupan dan kejayaan bangsa dan negara.Maka dari itu selain manusia  tergolong dalam kelompok kecil di ruang lingkup keluarga ,manusia juga tergolong kelonmpok   besar yang berarti dalam daerah tertentu atau disebut Negara. Tujuan pendidikan kewarganegaraan untuk mendidik anak agar kelak menjadi warga Negara  yang baik dan berguna.Dalam pengertian bahwa warga negara yang sanggup melaksanakan hak-hak dan kewajibannya,serta mengetahui nilai-nilai kebenaran dan keadilan sekaligus memperjuangkannya.Pendidikan kewarganegaraan dapat dilaksanakan melalui pelajaran-pelajaran sejarah , bahasa dan kesustraan nasional, kesenian dan kebudayaan.
Standar isi pendidikan kewarganegaraan adalah pengembangan :
1. nilai-nilai cinta tanah air;
2. kesadaran berbangsa dan bernegara;
3. keyakinan terhadap Pancasila sebagai ideologi negara;
4. nilai-nilai demokrasi, hak asasi manusia dan lingkungan hidup;
5. kerelaan berkorban untuk masyarakat, bangsa, dan negara, serta
6. kemampuan awal bela negara.
e. Pendidikan keindahan atau estetika
            Pada umumnya pendidikan keindahan ini kurang mendapat perhatian dari para pendidik. Hal ini disebabkan oleh karena :
Pertama,pendidikan yang begitu prisipal. Yang dimaksud di sisni ialah,secara kasarnya bahwa pendidikan keindahan itu tidak bisa dipergunakan sebagai suatu pokok penghidupan (dianggap demikian). Kedua, mungkin karena adanya kekeliruan dalam menginterpretasikan apa yang menjadi tujuan dari pendidikan  keindahan ini .
            Tujuan pendidikan keindahan ini tidaklah bermaksud untuk mendidik anak agar menjadi seniman atau seniwati dalam berbagai lapangan kesenian. Tetapi pendidikan keindahan bertujuan, agar semua anak mempunyai rasa keharuan terhadap keindahan. Mempunyai selera terhadap keindahan. Dan selanjutnya dapat menghargai dan menikmati keindahan
            Biarpun keindahan itu tidak dapat dijadikan suatu pokok penghidupan, tetapi kein dahan itu kita dapati dalam segala segi kehidupan sehari-hari. Misalnya kebiasaan-kebiasaan dalam berpakaian,mengatur rumah,mengatur kamar,mengatur halaman dan sebagainya. Hal-hal inilah yang harus diutamakan dalam pendidikan keindahan ini.
            Dalam hal ini, terutama anak harus dibiasakan untuk berdandan dengan rapi. Memakai pakaian yang serasi , baik mengenai potongannya(modern) , maupun mengenai kombinasi warnanya. Anak harus di bimbing dalam hal memilih mode pakaian yang sesuai dan memilih warna-warni yang serasi. Kiranya kepada anak perlu diperingatkan, bahwa yang baik,yang indah,bukanlah yang mahal dan murah, tetapi terletak pada seni , bagaimana menyusun kombinasi dan komposisi.
            Sebenarnya keindahan ini dapat berbentuk macam-macam , seperti keindahan dalam gerak , keindahan dalam rupa , keindahan dalam suara , keindahan dalam bahasa , dan sebgainya. Dengan begitu kita jumpai apa yang  disebut seni tari , seni rupa , seni suara , seni sastra , dan lain-lain.Dengan demikian pendidikan keindahan itu dapat dilaksanakan melalui bermacam-macam cara juga. Keindahan gerak dilaksanakan melalui seni rupa (menggambar), keindahan suara dilaksanakan melalui seni suara , dan keindahan bahasa dilaksanakan melalui senii sastra .

f. Pendidikan jasmani
            Pendidikan jasmani tidak hanya berupa latihan saja tapi juga untuk pembentukan watak. Tujuannya tidak hanya membuat sehat jasmani tapi juga menyehatkan mental. Secara umum , bertujuan untuk menyelaraskan dan menyeimbangkan jiwa dan raga. Menurut pasal 9 UU.no 4 thn 1950 pendidikan jasmani yang menuju keselarasan antara tumbuhnya badan dan perkembangan jiwa dan merupakan bangsa yang sehat dan kuat lahir dan batin. Pendidikan jasmani terdiri dari empat cabang, senam , atletik , permainan , bela diri.

g. Pendidikan Agama
            Agama sebagai sumber moral oleh karena itu bertujuan untuk menuntun anak menjadi anak yang bermoral, manusia yang berbudi luhur, manusia yang bertaqwa pada Tuhan, manusia yang meyakini dan mengamalkan ajaran agama. Dulu pendidikan agama diserahkan pada pihak swasta yang artinya pendidikan agama bukan kewajiban. Menurut  UU .no4 thn.1950 pasal 20 ditentukan pendidikan agama disekolah negeri yang artinya sekolah negeri berhak mengatur pendidikan agama. Menurut MPRS no.II/MPRS/1960 Bab.II pasal 2 ayat 3”....dengan pengertian bahwa murid berhak ikut serta apabila wakil murid atau murid dewasa menyatakan keberatannya.”yang artinya murid bebas memilih mengikuti ataupun tidak mengikuti  pendidikan agama. Setelah G30SPKI MPRS no.XXVII/MPRS/1966 Bab I pasal 1 ditetapkan bahwa pendidikan agama ditetapkan menjadi mata pelajaran disekolah mui sekolah dasar sampai universitas negri yang artinya murid wajib mengikuti pendidikan agama.

h. Pendidikan Kesejahteraan Keluarga
Pendidikan Kesejahteraan Keluarga boleh dikatakan merupakan masalah baru bagi kita. Pendidikan Kesejahteraan Keluarga sebenarnya mempunyai ruang lingkup atau scope yang sangat luas. Sebab boleh dikatakan, segala masalah dalam kehidupan terdapat dalam kehidupan keluarga. Dari masalah yang bersifat kefilsafatan atau pandangan hidup, sampai dengan masalah-masalah praktis dalam kehidupan, bahkan lebih jauh lagi, sampai masalah-masalah yang dianggap remeh dan sepele, seperti masalah mencuci pakain, mempergunakan kamar kecil, dan sebagainya. Tetapi kesemuanya itu tidak ada yang boleh diabaikan begitu saja. Kesemuanya itu penting dan harus mendapat perhatian sepenuhnya demi kelancaran dan keselarasan dalam keluarga.
Tujuan Pendidikan Kesejahteraan Keluarga secara luas ialah untuk meningkatkan taraf kehidupan dan penghidupan keluarga, untuk mencapai terwujudnya keluarga yang sejahtera menuju kepada terwujudnya masyarakat sejahtera. Sedang tujuan Pendidikan Kesejahteraan Keluarga secara khusus (di sekolah) ialah untuk memperdalam anak akan perlunya hidup rukun dan damai, hemat, cermat, sehat dan sejahtera dalam ikatan keluarga, dan menimbulkan minat untuk ikut serta berpartisipasi mengurus kehidupan keluarga.
Menyadarkan kepada anak, bahwa ia adalah merupakan bagian atau anggota daripada keluarganya, dan mempunyai kewajiban untuk turut serta bertanggung jawab terhadap terselenggara kehidupan keluarga yang harmonis. Mengenai scope di atas telah disebutkan, bahwa Pendidikan Kesejahteraan Keluarga mempunyai ruang lingkup yang luas sekali. Oleh Panitia Antar Departemental yang diserahi mengadakan pengolahan masalah ini diputuskan bahwa Pendidikan Kesejahteraan Keluarga berisikan sepuluh segi penghidupan dan kehidupan keluarga, yaitu :
1.      Hubungan intra dan antar keluarga
2.      Masalah membimbing anak
3.      Masalah makanan
4.      Masalah pakaian
5.      Masalah perumahan (tata rumah)
6.      Masalah kesehatan
7.      Masalah keuangan
8.      Masalah tatalaksana rumah tangga
9.      Masalah keamanan lahir dan batin
10.  Masalah perencanaann sehat
Mengenai pelaksanaan Pendidikan Kesejahteraan Keluarga di sekolah-sekolah, pada umumnya disajikan dalam bentuk unit-unit. Unit-unit ditentukan berdasarkan sepuluh degi penghidupan dan kehidupan di atas. Tinjauan terhadap sesuatu unit tidak dibatasi oleh salah satu segi kehidupan di atas, melainkan ditinjau dari berbagai segi yang memang mempunyai hubungan erat, dan memang memungkinkan hal tersebut. Misalnya, masalah makanan, maka mau tidak mau mesti akan berhubungan dengan masalah kesehatan, mungkin juga dengan masalah membimbing anak, dan mungkin pula dengan masalah hubungan intra keluarga (sopan-santun, tata tertib, jam-jam makan dan sebagainya).
Mengenai bahan atau materi yang disajikan perlu adanya penyesuaian dengan tingkat pendidikan anak. Dengan sendirinya materi untuk Sekolah Lanjutan Atas akan berbeda dengan materi dengan anak-anak Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama akan berbeda dengan materi untuk anak-anak Sekolah Dasar.
Salah satu hal yang kiranya perlu mendapat perhatian ialah, bahwa disamping memberikan pengetahuan-pengetahuan dan ketrampilan-ketrampilan mengenai kesejahteraan keluarga penting sekali adanya penanaman sikap terhadap pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Anak harus diubah sikapnya untuk tidak merasa malu dan segan melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah. Sebaliknya anak harus merasa senang dan bahagia, bahwa ia telah dapat membantu ayah dan ibunya melakukan pekerjaan-pekerjaan dalam rumah tangga demi kepentingan keluarga, demi kesejahteraan bersama. Pendidikan kesejahteraan keluarga, tujuan pendidikan ini secara luas adalah untuk meningkatkan taraf kehidupan dan penghidupan keluarga, untuk terwujudnya keluarga yang sejahtera menuju kepada terwujudnya masyarakat yang sejahtera.



Daftar Pustaka

Indrakusuma, Amir Daien.1983.Pengantar Ilmu Pendidikan.Surabaya:Usaha Nasional.
            http://www.m-edukasi.web.id/2012/06/aspek-aspek-pendidikan.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar